Imlek dan YLKTI

Home

Menuju Imlek... [1]
Menuju Imlek... [2]
Menuju Imlek... [3]
Menuju Imlek... [4]
Menuju Imlek... [5]
Menuju Imlek... [6]
Menuju Imlek... [7]
Menuju Imlek... [8]
Menuju Imlek... [9]
Menuju Imlek... [10]
Menuju Imlek... [11]
Menuju Imlek... [12]
Menuju Imlek... [13/Habis]
Menuju Imlek... [13/Habis]


Menuju Imlek menjadi Hari Besar Nasional [13]
YLKTI pun menyiapkan banyak program
 
Oleh Rio Bembo Setiawan
 
SETELAH berhasil memperjuangkan Imlek menjadi hari libur nasional, apa kemudian yang mesti dilakukan Yayasan Lembaga Kebudayaan Tionghoa?
 
"Pertama-tama, kita perlu mengucapkan bersyukur, juga terima kasih kepada pemerintah dan segenap anak bangsa Indonesia, terutama para pendukung perjuangan ini. Tanpa dukungan dari berbagai pihak, terutama dukungan dari masyarakat luar komunitas Tionghoa, perjuangan tak akan ada artinya," kata Suhu Acai, Ketua Umum YLKTI.
 
"Tak lupa, secara khusus kami juga harus berterima kasih kepada Bapak Abdurrahman Wahid dan Bapak Amien Rais, juga Ibu Megawati yang memberikan dukungan total terhadap perjuangan YLKTI," sambung Suhu Acai.
 
"Selanjutnya, banyak hal mesti kita lakukan bagaimana agar masyarakat Tionghoa sebagai sesama anak bangsa bisa memberikan apa yang terbaik bagi bangsa dan negara ini," lanjut pria kelahiran Medan yang juga bermukim si Surabaya ini.
 
Sesuai dengan maksud dan tujuan pendiriannya, kata paranormal nyentrik ini, YLKTI punya empat komitmen, yakni:
 
  1. Menjadi mitra pemerintah dalam menunjang suksesnya kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia;
  2. Menjadi mitra swasta dalam meningkatkan kesejahteraan sosial;
  3. Turut serta membantu pemerintah dalam bidang kesehatan pada umumnya;
  4. Menggali, membina, mengembangkan, dan melestarikan bidang kesenian dan kebudayaan.

Untuk mencapai tujuan itu, kata Suhu Acai, YLKTI akan melakukan berbagai usaha, antara lain:

  • Menyelenggarakan padepokan untuk memberi pelajaran pengobatan, ramu-ramuan kuno yang bersifat alamiah dengan cara-cara shinse;
  • Mengembangkan peninggalan kebudayaan Tionghoa seperti barongsai, cee kang, tio ciu pan [sandiwara Tionghoa], tek kiah hih [wayang kulit Tionghoa], ciswak, ruwat, dan sebagainya, termasuk membantu pengembangan usaha makanan tradisi Tionghoa;
  • Mengadakan padepokan bela diri warisan Tionghoa.
  • Menyalurkan bantuan sosial dari sumbangan para pengusaha.
Terkait dengan itulah, Suhu Acai tak henti-hentinya berkampanye ke berbagai kota di tanah air, untuk mewujudkan gagasannya. YLKTI pun sedang mempersiapkan pembukaan kepengurusan di daerah-daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.
 
Kepengurusan YLKTI tak hanya terdiri atas orang-orang Tionghoa, tapi juga non-Tionghoa--baik yang Konghucu, Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan aliran-aliran kepercayaan. "YLKTI itu organisasi lintas agama dan etnis. Ada yang Tionghoa, Batak, Jawa, Sunda, dan sebagainya," kata Osmar Siahaan, Sekjen YLKTI, menambahkan.
 
[Habis]